Sunday, December 11, 2011

This tour of Aceh

Aceh Map
Aceh merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki aneka ragam budaya yang menarik khususnya dalam bentuk tarian, kerajinan dan perayaan. Di Provinsi Aceh terdapat empat suku utama yaitu:
Aceh is one of the areas in Indonesia which has a variety of interesting cultural, especially in the form of dance, crafts and celebrations. In Aceh Province, there are four major tribes, namely:
  • Suku Aceh / Interest Aceh
  • Suku Gayo / Interest Gayo
  • Suku Alas / Interest Alas
  • Tamiang / Tamiang
Suku Aceh merupakan kelompok mayoritas yang mendiami kawasan pesisir Aceh. Orang Aceh yang mendiami kawasan Aceh Barat dan Aceh Selatan terdapat sedikit perbedaan kultural yang nampak nya banyak dipengaruhi oleh gaya kebudayaan Minangkabau. Hal ini mungkin karena nenek moyang mereka yang pernah bertugas diwilayah itu ketika berada di bawah protektorat kerajaan Aceh tempo dulu dan mereka berasimilasi dengan penduduk disana.
Aceh is the majority tribe who inhabited the coastal areas of Aceh. People who inhabited the region of Aceh and West Aceh, South Aceh, there is little cultural differences that appear heavily influenced by his style of Minangkabau culture. This may be because their ancestors who served in the land when under protectorate of the kingdom of Aceh's past and they assimilated with the population there.


Suku Gayo dan Alas merupakan suku minoritas yang mendiami dataran tinggi di kawasan Aceh Tengah dan Aceh Tenggara. Kedua suku ini juga bersifat patriakhat dan pemeluk agama Islam yang kuat.
Interest Gayo and Alas are ethnic minorities who inhabit the highlands of Central Aceh and Aceh region of Southeast. Both of these tribes also are patriakhat and strong Moslem.
Setiap suku tersebut memiliki kekhasan tersendiri seperti bahasa, sastra, nyanyian, Tarian, musik dan adat istiadat.
Each tribe has its own peculiarities such as language, literature, songs, dance, music and customs.
Kebudayaan Aceh sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Tarian, kerajinan, ragam hias, adat istiadat, dan lain-lain semuanya berakar pada nilai-nilai keislaman. Contoh ragam hias Aceh misalnya, banyak mengambil bentuk tumbuhan seperti batang, daun, dan bunga atau bentuk obyek alam seperti awan, bulan, bintang, ombak, dan lain sebagainya. Hal ini karena menurut ajaran Islam tidak dibenarkan menampilkan bentuk manusia atau binatang sebagai ragam hias.
Acehnese culture is strongly influenced by Islamic culture. Dance, crafts, ornaments, customs, etc. are all rooted in Islamic values​​. Examples of decorative Aceh for example, many take the form of plants such as stems, leaves, and flowers or other forms of natural objects such as clouds, moon, stars, waves, and so forth. This is because according to Islamic teachings are not justified in presenting the human form or animal as decorative.
Aceh sangat lama terlibat perang dan memberikan dampak amat buruk bagi keberadaan kebudayaannya. Banyak bagian kebudayaan yang telah dilupakan dan benda-benda kerajinan yang bermutu tinggi jadi berkurang atau hilang.
Aceh is very long in a war and an impact is very bad for the existence of culture. Many parts of culture that has forgotten craft and objects of high quality to be reduced or lost.

Aceh menyediakan banyak tempat wisata yang dapat dikunjungi, namun kejadian Tsunami yang melanda daerah tersebut membuat tempat wisata Aceh yang kebanyakan wisata pantai ikut hancur, berikut daftar beberapa tempat wisata di Aceh :Aceh provides many sights can be visited, but the incidence of the Tsunami that hit the areamake the most of the tourist beaches of Aceh were destroyed, the following list of some of the sights in Aceh

1. Mesjid Raya Baiturahman / Grand Mosque Baiturahman
Mesjid Raya Baiturahman yang terletak di pusat kota Banda Aceh yakni di Pasar Aceh merupakan mesjid kebanggan masyarakat Aceh. Sejarah mencatat pada jaman dulu ditempat ini berdiri sebuah Mesjid Kerajaan Aceh. Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873 Mesjid ini dibakar, namun untuk meredam kemarahan rakyat Aceh pada tahun 1875. Belanda membangun kembali sebuah Mesjid sebagai penggantinya yang berdiri megah saat ini. Mesjid ini berkubah tunggal dan dibangun pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959 – 1968).
Baiturahman Grand Mosque which is located in downtown Banda Aceh, Aceh is a marketthat is in the pride of the people of Aceh mosque. History records that in earlier times in this place stands a mosque Kingdom of Aceh. When the Dutch attacked the city of Banda Acehin 1873 the mosque was burned, but to dampen the anger of the people of Aceh in 1875.Netherlands to rebuild a mosque that stands majestically as his successor today. Thissingle domed mosque built on December 27, 1883. This mosque was subsequentlyextended to 3 dome in 1935. Recently expanded again into 5 dome (1959-1968).
Mesjid Raya Baiturahman / Grand Mosque Baiturahman
2. Pantai Lampuuk / Lampuuk beach
Pantai Lampuuk terletak di pantai barat Aceh. Dari Banda Aceh kurang lebih 17 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor dalam waktu kurang dari 30 menit. Namun sayangnya pantai yang cukup terkenal dan menjadi tempat wisata favorit penduduk Aceh tersebut musnah tersapu Tsunami.
Pantai ini cukup indah dan dapat digunakan sebagai tempat berenang, berjemur di pasir putih, memancing, berlayar, menyelam dan kegiatan rekreasi lainnya.
Disore hari pantai ini terasa lebih indah, dimana kita dapat menyaksikan matahari terbenam yang penuh pesona. Disekitar pantai Lampuuk juga berdiri megah sebuah pabrik semen Andalas, namun saat itu pabrik tersebut hanya tinggal kenangan setelah mengalami kerusakan parah akibat gempa dan Tsunami 26 Desember 2004 yang lalu. Dikawasan Pantai Lampuuk, anda dapat bermain golf dengan latar belakang panorama laut di Padang Golf Seulawah. Sayangnya semua keindahannya kini tinggal kenangan dan tinggal menungguk pemerintah memperbaiki wisata yang cukup digemari turis asing tersebut.
Lampuuk beach is located on the west coast of Aceh. From Banda Aceh, approximately 17 miles and can be reached by motor vehicle in less than 30 minutes. But unfortunatelythe beach is quite famous and a favorite tourist attractions such Acehnese tsunami sweptdestroyed. The beach is quite beautiful and can be used as a place to swim, sunbathe onwhite sand, fishing, sailing, diving and other recreational activities. In the afternoon it was more beautiful beach, where we can watch the sunset full of charm. Around the coastLampuuk also stands majestically Andalas a cement factory, but by then the plant is only a memory after suffering severe damage caused by the earthquake and tsunami of lastDecember 26, 2004. Lampuuk Coast region, you can play golf with panoramic seabackground in Padang Golf Seulawah. Unfortunately all of its beauty is now a distant memory and improve government menungguk lived a fairly popular tourist foreign tourists.
 
Pantai Lampuuk / Lampuuk beach
3. Taman Wisata Alam Laut Pulau Weh / Natural Park Pulau Weh Marine
Taman Wisata Alam (TWA) Laut Pulau Weh ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 928/Kpts/Um/12/1982 tanggal 27 Desember 1982 seluas 2.600 Ha. Secara geografis TWA Laut Pulau Weh terletak pada 0552’ Lintang Utara dan 9552’ Bujur Timur. Sedangkan secara administrasi pemerintahan termasuk Kecamatan Sukakarya, Kotamadya Sabang, Propinsi D.I. Aceh dan dari segi pengelolaan hutannya termasuk Resort Konservasi Sumber Daya Alam Iboih dan masuk pada Sub Balai Konservasi Sumberdaya Alam Propinsi NAD. Di TWA Laut Pulau Weh, Sabang terdapat terumbu karang, baik karang yang keras maupun karang yang lunak dengan berbagai jenis, bentuk dan warna, yang kesemuanya membentuk gugusan karang yang menarik untuk dinikmati, antara lain karang dengan nama daerahnya karang lupas, karang rusa, karang kerupuk. Selain terumbu karang, TWA Laut Pulau Weh, Sabang dapat ditemui jenis-jenis ikan karang seperti Angel fish, Tropet fish, Dunsel fish, Sergeon fish, Grope fish, Parrot fish dan lain-lain. Ikan-ikan ini berada di sekitar TWA Laut Pulau Weh dan sebagian merupakan endemik di daerah ini. Selain itu juga banyak ditemukan jenis-jenis ikan ekonomis seperti Tuna, Kakap, Kerapu, Bayan, Pisang-pisangan dan lain-lain. Kegiatan wisata alam yang dapat dilakukan di TWA Laut Pulau Weh adalah kegiatan wisata tirta seperti berselancar, naik sampan, berenang, memancing, serta menyelam untuk menikmati alam bawah air dengan keanekaragaman terumbu karang serta ikan-ikan karangnya yang indah. Beberapa fasilitas yang dapat mendukung kegiatan wisata antara lain : pondok-pondok penginapan di sekitar Iboih yang dibangun oleh masyarakat, shelter, MCK, masjid, kios cendera mata dan hotel yang terdapat di Gapang. Selain itu terdapat berbagai fasilitas yang berada di Pulau Rubiah yang dibangun oleh Dinas Pariwisata Dati I D.I. Aceh antara lain : pusat kegiatan menyelam yang dilengkapi dengan fasilitasnya (perahu motor, peralatan selam), mushola, shelter, MCK, rumah jaga, menara pengintai, jalan setapak, taman dan instalasi listrik.

Natural Park (TWA) Sea Pulau Weh established under the Decree of Minister of Agriculture. 928/Kpts/Um/12/1982 dated December 27, 1982 covering an area of ​​2600 Ha. TWA is geographically located on Weh Island Sea 0552 'north latitude and 9552' east longitude. While in public administration including Sukakarya District, Municipality of Sabang, Province IN Aceh and in terms of forest management including the Natural Resources Conservation Resort Iboih and get in on the Conservation of Natural Resources Sub-Province of NAD. In the TWA Sea Pulau Weh, Sabang there are coral reefs, both hard corals and soft corals of all types, shapes and colors, all of which form a cluster of interesting reef to be enjoyed, among others, the name coral reef area lupas, rock deer, rock crackers. In addition to coral reefs, TWA Sea Pulau Weh, Sabang can be found the types of reef fish such as Angel fish, fish Tropet, Dunsel fish, fish Sergeon, Grope fish, Parrot fish and others. These fish around Pulau Weh Marine TWA and most are endemic in this area. It also found many types of fish such as Tuna economical, Kakap, Grouper, Bayan, Banana-Pisangan and others. Nature tourism activities to do in Pulau Weh Marine TWA is tirta tourist activities such as surfing, boat ride, swimming, fishing, and diving under the water to enjoy nature with a diversity of coral reefs and reef fish are beautiful. Some facilities can support tourism activities, among others: cottages around Iboih constructed by society, shelter, toilets, mosques, souvenir kiosks and hotels located in Gapang. In addition there are various facilities on the island Rubiah built by the Department of Tourism provincial, IN Aceh include: diving center is equipped with facilities (motor boats, scuba gear), praying, shelter, toilets, guard house, tower, trails, parks and electrical installations.

Taman Wisata Alam Laut Pulau Weh / Natural Park Pulau Weh Marine
4. Krueng Raya / Krueng Raya
Krueng Raya berjarak 35 Km dari Banda Aceh merupakan sebuah nama wilayah. Di daerah tersebut terdapat pelabuhan yang bernama “Pelabuhan Malahayati” yang sering dipergunakan masyarakat Banda Aceh untuk menyebrang ke pulau Weh (Sabang). Pelabuhan tersebut akhirnya dinon aktifkan setelah pelabuhan Ulee Lhe yang lebih megah dibangun (namun sama saja hancur karena Tsunami). Krueng Raya yang termasuk daerah dengan kerusakan terparah akibat Tsunami dapat ditempuh dalam waktu 30 menit dari Banda Aceh.

Di daerah ini juga sangat terkenal dengan pantainya yang bernama Ujong Batee, disana selain pantainya yang indah juga terdapat sebuah restoran yang cukup megah yang menyajikan makanan khas Aceh yang terkenal yaitu Kepiting Besar, Udang Windu, Tiram, Telur Penyu, dan berbagai hasil laut dan pertanian lainnya. Pantai Ujong Batee sendiri terletak sekitar 17 km arah timur Banda Aceh. Pantainya yang ditumbuhi pohon cemara yang lebat merupakan pelindung para pengunjung bila hari panas sehingga cukup nyaman untuk bersantai. Ujong Batee dalam bahasa Aceh berarti Ujung Batu, mungkin nama ini diberikan karena dari pantai inilah kita dapat langsung melihat pulau seberang Sabang

Selain Ujong Batee, di Krueng Raya juga terdapat daerah wisata bernama Lamreh, daerah ini merupakan daerah bukit yang dulunya tandus, namun kini telah ditanami berbagai pohon. Dari sini kita dapat menyaksikan panorama laut yang indah seperti terlihat pada gambar dihalaman ini.
Krueng Raya is 35 km from Banda Aceh is a region name. In the area there is a portnamed "Ports Malahayati" who often used the people of Banda Aceh to cross to the island of Weh (Sabang). Eventually enable the port after the port of Ulee disabled LHE built a more magnificent (but the same thing destroyed by the Tsunami). Krueng Kingdom whichincludes areas with the worst damage caused by tsunami can be reached within 30minutes of Banda Aceh.
 
In this area is also very famous for its beaches named Ujong Development Center, in addition to its beautiful beaches there are also a quite magnificent restaurant that servesthe famous Crab Aceh Besar, Tiger Shrimp, Oysters, Turtle Eggs, and a variety of seafood and agricultural other. Ujong Batee own beach located about 17 km east ofBanda Aceh. The beach is covered with dense pine trees that shelter the visitors when it's hot so it is quite comfortable to relax. Ujong Batee in the Acehnese language means UjungBatu, maybe the name was given because of the beach that we can immediately see theother side of the island of Sabang
 
Besides Ujong Development Center, in Krueng Raya there are also a tourist area calledLamreh, this area is an area that was once barren hill, but now has been planted with various trees. From here we can see the beautiful panorama of the ocean as seen in the picture on this page.

Krueng Raya / Krueng Raya
5. Museum dan Rumoh Aceh / Museums and Rumoh Aceh
Kota Banda Aceh memiliki sebuah Museum Negeri yang terletak dalam sebuah Kompleks. Bangunan induk Museum berupa sebuah rumah tradisional Aceh, dibuat pada tahun 1914 untuk Gelanggang Pameran di Semarang, yang kemudian dibawa pulang ke Banda Aceh tahun 1915 oleh Gubernur Van Swart (Belanda) yang kemudian dijadikan Museum. Rumoh Aceh adalah sebuah rumah panggung yang berpintu sempit namun didalamnya seluruh ruangan tersebut tidak bersekat.
Sekarang ini lingkungan Museum ini telah bertambah dengan bangunan baru yang mengambil motif-motif bangunan Aceh seperti halnya bangunan Balai Pertemuan yang berbentuk kerucut yang bentuknya diambil dari cara orang Aceh membungkus nasi dengan daun pisang yang dinamakan “Bukulah”. Bukulah ini antara lain dihidangkan pada kenduri-kenduri tertentu seperti Kenduri Blang, Kenduri Maulid Nabi Besar Muhammad Saw dan lain sebagainya.
Ruang pamer Museum yang baru, memiliki bangunan 3 lantai, dipenuhi oleh berbagai koleksi barang-barang purbakala yang ditata dengan baik. Salah satu koleksi Museum ini adalah Lonceng Besar yang diberi nama “CakraDonya”. Lonceng ini merupakan hadiah dari Kerajaan Cina tempo dulu yang dibawa oleh Laksamana Ceng Ho pada tahun 1414. Beranda depan Museum memiliki bentuk khas yang juga memperlihatkan ukiran-ukiran kayu dengan motif Aceh. Banyak hal yang menarik dimuseum yang bersebelahan dengan pendopo Gubernur Aceh itu sehingga banyak murid sekolah yang berkunjung setiap harinya.
Dikompleks ini sekaligus dijumpai makam sultan-sultan Aceh dimasa lalu. Makam para Sultan pada umumnya dinuat dari Batu Gunung dan dihiasi dengan Kaligraphi Arab yang indah mempesona, salah satunya adalah Makam Sultan Iskandar Muda.

City of Banda Aceh has a Museum located in a complex. The main building of a museumof traditional Acehnese house, built in 1914 for Venues Exhibition in Semarang, which is then brought back to Banda Aceh in 1915 by Governor Van Swart (The Netherlands) which is then used as museum. Rumoh Aceh is a narrow door in the stage house but inside the room is not insulated.
Today this museum environment has increased with new buildings taking the motives as well as building Aceh Hall building which conical shape taken from the way the people of Aceh rice wrapped in banana leaves called "Bukulah". Bukulah, among others served on afeast-like specific festivity Kenduri Blang, Kenduri Birthday of Prophet Muhammad SAW
and so forth.
The new showroom Museum, the building has 3 floors, crammed with a collection ofantiquities is well laid out. One collection of this museum is the Great Bell, named"CakraDonya". This bell is a gift from the Kingdom of China in the past that brought byAdmiral Ceng Ho in 1414. Museum front porch has a distinctive shape which also showedwood carvings with motifs of Aceh. Many interesting things dimuseum pavilion adjacent to the Governor of Aceh that so many schoolchildren who visit each day.
Dikompleks is once again found the tomb of the sultans of Aceh in the past. Tomb of theSultan in general dinuat from Stone Mountain and adorned with a beautiful Arab Kaligraphifascinating, one of which is the Tomb of Sultan Iskandar Muda.

Museum dan Rumoh Aceh / Museums and Rumoh Aceh
6. Gunongan / Gunongan
Gunongan merupakan sebuah bangunan peninggalan Sultan Iskandar Muda (1608-1636) untuk permaisurinya Putri Phang.Menurut sejarah, Putri Phang selalu merasa rindu akan kampung halamannya, Pahang – Malaysia. Sultan kemudian mengetahui bahwa kegusaran permaisurinya itu karena di Pahang Istananya dikelilingi oleh perbukitan dimana permaisuri dapat bermain, namun disini tidak.
Lalu Sultan membangun sebuah gunung buatan yaitu Gunongan dimana permaisuri dapat memanjatinya. Begitu bangunan ini siap, permaisuri menjadi berbahagia dan lebih banyak menghabiskan waktunya disini terutama pada saat matahari akan tenggelam. Gunongan terletak dalam sebuah komplek di Jl Teuku Umar Banda Aceh, dimana daerah tersebut luput dari keganasan Tsunami.

Gunongan is a heritage building of Sultan Iskandar Muda (1608-1636) for the queenPrincess Phang. Historically, Princess Phang always felt longing for his hometown, Pahang- Malaysia. Sultan later learned that the queen's wrath because in Pahang palace,surrounded by hills where the empress can play, but not here.
Then the Sultan to build an artificial mountain that is where the empress Gunongan canclimb. Once the building is ready, the empress became happy and spent more time here, especially when the sun will sink. Gunongan located in a complex on Jl. Teuku Umar BandaAceh, where the area escaped the Tsunami malignancy.

Gunongan / Gunongan
7. Alam Aceh / Aceh's natural
Banda Aceh memiliki pemandangan laut yang luar biasa bagusnya, pemandangan laut tersebut juga menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan asing, kota ini memang merupakan kota pesisir pantai barat Sumatera, maka tak heran kota ini termasuk parah akibat terjangan Tsunami.
Pemandangan laut Aceh tidaklah kalah dengan Bali ataupun Lombok. Selain laut, pemandangan udara Banda Aceh juga sangat indah ini dimungkinkan mengingat kurangnya polusi di daerah tersebut. Kendaraan di Aceh juga tidak sebanyak di daerah lain.

Banda Aceh has sea views fantastic, the views of the sea itself also be an attraction forforeign tourists, the city is indeed a city of the west coast of Sumatra, it is no wonder the city include losses due to this tsunami.
Aceh sea view is not inferior to Bali or Lombok. Besides the sea, air views of Banda Acehis also very beautiful this is possible given the lack of pollution in the area. Vehicles in Acehis also not as much in other areas.


Pulau Tsunami / Tsunami Island
Takengon
Bukit Barisan

1 comment: